Hyperinflasi. Inflasi yang mengerikan



Pasti para pembaca pernah mendengar inflasi, ya inflasi dimana terjadi kenaikan harga pada barang dan jasa di suatu negara dalam jangka waktu tertentu. Tapi kali ini kita akan membahas tentang hyperinflasi. Dari namanya hyper inflasi sendiri sama dengan inflasi namun hyperinflasi dapat diartikan sebagai inflasi yang memiliki tingkatan paling tinggi dimana tingkat inflasi melebihi 100% yang mengakibatkan suatu negara akan sangat terguncang secara ekonomi seperti yang terjadi di zimbabwe dan venezuela, di Indonesia sendiri hyper inflasi pernah terjadi pada jaman dahulu tepatnya ketika pemerintahan presiden sukarno pada tahun 1960 an. langsung saja kita membahas secara lengkap tentang hyperinflasi.

Apa itu hiperinflasi

secara sederhana hyperinflasi dapat diartikan sebagai inflasi yang berada dia atas 100% dalam setahun sehingga terjadi lonjakan harga pada barang dan jasa secara cepat namun tidak diimbangi dengan kenaikan pendapatan,sehingga jumlah uang yang beredar tidak sebanding dengan jumlah penggunaan yang mana membuat nilai mata uang tersebut menjadi turun.

hyperinflasi ini berdampak buruk pada nilai mata uang negara yang mengalami, dimana terjadi penurunan nilai mata uang dari nilai yang sebenarnya. Seperti hukum ekonomi permintaan dan penwaran disini terjadi peningkatan uang yang beredar namun permintaan akan daya beli barang mengalami penurunan, sehingga mata uang menjadi tidak berharga. dampak negatif pada mata uang lokal ini menjadikan mata uang asing mengambil alih peran karena memiliki nilai yang lebih stabil.

Faktor-faktor penyebab hiperinflasi

Mencetak Uang Berlebihan Menutupi Defisit Anggaran

 Setiap pemerintahan selalu mekakukan penganggaran dana dalam melakukan berbagai rencana untuk melakukan pengembangan dan pembangunan. . Anggaran tersebut dapat diperoleh dari berbagai sumber seperti pajak dan utang luar negeri. Namun, pemungutan pajak berlebihan dinilai memberatkan rakyat. Sementara utang luar negeri ke depannya juga akan membebani anggaran pemerintah. Ketika terjadi kebimbangan seperti ini pemerintha akan mengatasi dengan solusi mencetak uang untuk menutupi defisit anggaran Keputusan terkait pengadaan sumber dana anggaran pemerintah ini masuk pada ranah kebijakan moneter yang diambil dengan mempertimbangkan situasi dan kondisi ekonomi di negara yang bersangkutan. Pengambilan langkah dalam melakukan pencetakan uang ini dapat menjadi pisau bermata dua dimana secara postif dapat menutupi anggaran tanpa memerlukan utang dan membebani rakyat, namun dengan dicetaknya uang yang dalam jumlah yang banyak lama kelamaan akan menyebabkan hyperinflasi seperti balon yang ditiup terus menerus yang dapat pecah lama - lama.

Defisit anggaran yang diatasi dengan mencetak uang, pemerintah tak ubahnya sedang memungut pajak inflasi. Berbeda dengan pajak lainnya, pajak inflasi tak kasat mata karena pemerintah tidak menerima tagihan riil dari pajak ini. Saat pemerintah mencetak uang, tingkat harga mengalami kenaikan, sebaliknya nilai uang mengalami penurunan. Masyarakat memiliki banyak uang, tetapi justru daya belinya menurun, sebab nilai uang yang dimiliki tak sesuai dengan tingkat harga komoditas yang ada di negara tersebut.

Terjadi Konflik/Perang

Negara yang sedang berperang tentu kondisi perekonomiannya tidak stabil. Faktor-faktor ekonomi dan produksi tidak bisa dijalankan sebagaimana mestinya untuk mengembangkan dan meningkatkan pertumbuhan ekonomi negara. Selain itu, perang juga menghabiskan dana yang sangat besar. Tak hanya untuk pengadaan senjata dan alat-alat pertempuran, pemerintah juga harus memberikan kompensasi terhadap jasa para pejuang. Pada keadaan yang seperti ini tentu pemerintah akan lebih fokus dalam mengatasi masalah keamanan untuk memulihkan stabilitas negara dan kuarng mmemerhatikan perkonomian negara. Produktivitas menurun tentu akan berdampak pada pendapatan nasional yang menurun pula. Sementara di sisi lain, pemerintah butuh dana besar untuk membiayai peperangan.

Kondisi sosial politik yang memanas

Memanasnya kondisi sosial politik suatu negara juga disinyalir turut menjadi penyebab terjadinya hiperinflasi. Bagaimana bisa? Konflik internal yang terjadi berpotensi menimbulkan kerusuhan dan huru-hara yang dapat berpengaruh pada ketidakstabilan ekonomi. Kerusuhan dan huru-hara biasanya diikuti dengan perusakan infrastruktur dan fasilitas umum. Jika memanasnya suhu sosial politik berlangsung berkepanjangan jelas menghambat laju pertumbuhan ekonomi, karena proses produksi tidak maksimal sehingga tingkat atau volume produksi menurun. Secara lebih lanjut, hal tersebut berdampak pada rendahnya pendapatan nasional. Sementara dampak dari konflik internal atas kerusakan infrastruktur dan fasilitas umum membutuhkan dana yang besar untuk memperbaiki dan membangun kembali.


Komentar